SKANDAL BERTUBI-TUBI! RIDWAN KAMIL DIHANTAM ISU KORUPSI DAN PERSELINGKUHAN

Sumber Foto: detak.co

WARTAALENGKA, Cianjur – Sebelum terseret dalam isu perselingkuhan, Ridwan Kamil terlebih dahulu dikaitkan dengan dugaan korupsi di Bank BJB yang melibatkan manipulasi dana iklan.

Dugaan Perselingkuhan

Ridwan Kamil menjadi sorotan publik setelah diterpa isu yang kurang menyenangkan. Seorang selebgram bernama Lisa Mariana mengklaim memiliki hubungan spesial dengannya, bahkan mengaku memiliki seorang anak berusia empat tahun yang diduga merupakan hasil hubungan tersebut.

Pada 26 Maret 2025, Lisa membagikan tangkapan layar percakapan dengan Ridwan Kamil, yang akrab disapa Emil, melalui fitur cerita di akun Instagram-nya. Unggahan ini dengan cepat menjadi viral dan menyebar luas di berbagai platform media sosial, terutama di Instagram dan TikTok, memicu beragam reaksi dari masyarakat.

Menanggapi tuduhan tersebut, Emil secara tegas membantahnya. Dalam klarifikasi yang ia sampaikan melalui akun Instagram, ia menyatakan bahwa isu ini merupakan fitnah keji yang bermotif ekonomi dan sebelumnya pernah muncul di masa lalu. Emil menegaskan bahwa dirinya hanya pernah bertemu Lisa sekali, dan permasalahan ini telah selesai sejak empat tahun lalu dengan bukti-bukti akurat yang tidak dapat dibantah.

Ia juga mengaku bingung mengapa isu ini kembali diungkit di tengah berbagai tantangan yang sedang ia hadapi. Emil berencana menggunakan tim hukumnya untuk melawan tuduhan tersebut dan memastikan bahwa bukti-bukti yang valid dapat dipublikasikan pada waktu yang tepat.

Selain itu, ia menyampaikan permohonan maaf kepada publik atas kegaduhan yang terjadi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa sebagai manusia biasa, dirinya tidak luput dari berbagai ujian kehidupan.

Kasus Korupsi Bank BJB

Sebelum diterpa isu perselingkuhan, Emil lebih dulu tersangkut dalam kasus dugaan korupsi yang melibatkan Bank BJB, khususnya terkait manipulasi dana iklan. Kasus ini mengalami perkembangan ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meningkatkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan pada 27 Februari 2025. Dugaan kerugian negara akibat kasus ini diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.

Pada 10 Maret 2025, penyidik KPK melakukan penggeledahan di kediaman pribadi Emil di Bandung. KPK menyatakan bahwa tindakan ini bertujuan untuk mencari bukti yang dapat menghubungkan Emil dengan dugaan korupsi di Bank BJB berdasarkan keterangan para saksi. Hingga saat ini, KPK telah mengantongi lima nama tersangka yang terdiri dari pejabat negara dan pihak swasta, meskipun identitas mereka belum diumumkan secara resmi.

Emil menegaskan sikap kooperatifnya terhadap proses hukum yang berjalan. Ia menyatakan bahwa dirinya siap membantu KPK secara profesional dan tidak ingin berspekulasi mengenai hasil penyidikan yang masih berlangsung.

Perjalanan Politik dari Jawa Barat ke Jakarta

Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat, Emil mencoba peruntungannya di Pilkada Jakarta 2024. Ia berpasangan dengan Suswono dan mendapat dukungan dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus, yang terdiri dari 15 partai politik. Dengan pengalaman dua periode sebagai kepala daerah, Emil optimistis dapat memenangkan pemilihan di Jakarta.

Namun, hasil pilkada tidak berpihak padanya. Emil kalah dari pasangan Pramono Anung dan Rano Karno yang diusung oleh PDI-P dan Hanura.

Dalam perjalanan kampanye, Emil menghadapi berbagai serangan politik, termasuk isu-isu lama yang kembali mencuat akibat jejak digitalnya. Sejumlah unggahan lama di media sosial kembali viral dan digunakan sebagai bahan untuk merusak citranya. Kondisi ini dinilai mempengaruhi elektabilitasnya, terutama di hadapan pemilih Jakarta yang dikenal lebih rasional dalam menentukan pilihan.

Emil sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023. Setelah masa jabatannya berakhir, ia bergabung dengan Partai Golkar dan menjadi salah satu figur potensial yang dipertimbangkan untuk maju dalam Pilkada 2024. Awalnya, Emil memiliki dua pilihan, yakni mencalonkan diri kembali di Jawa Barat atau mencoba peruntungan di Jakarta.

Keputusan akhir untuk maju di Jakarta didasarkan pada pertimbangan politik internal dalam Koalisi Indonesia Maju (KIM). Emil mengungkapkan bahwa Presiden terpilih Prabowo Subianto berperan dalam mendorongnya untuk bertarung di Jakarta, dengan alasan agar komunikasi antara Jakarta dan pemerintah pusat dapat berjalan lebih harmonis.

Faktor lain yang menjadi bahan pertimbangan adalah masa depan Jakarta setelah kehilangan statusnya sebagai ibu kota negara. Dengan latar belakang di bidang arsitektur dan tata kota, Emil dinilai sebagai sosok teknokratis yang tepat untuk memimpin transformasi Jakarta menjadi kota global setelah pemindahan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN). Akhirnya, ia mencalonkan diri bersama Suswono sebagai pasangannya. Namun, meskipun mendapat dukungan dari koalisi besar, Emil gagal memenangkan hati warga Jakarta. (WA/ Ow)

Sumber Artikel: Kompas, 27 Maret 2025 dengan judul Ridwan Kamil, dari Pilkada Jakarta hingga Isu Perselingkuhan Oleh Redaksi


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama