WARTAALENGKA, Cianjur – Beberapa
ruas jalan yang akan dilalui oleh para pemudik pada momentum mudik Lebaran 2025
mendatang di Kabupaten Cianjur berada dalam kondisi gelap total saat malam
hari. Kondisi ini disebabkan oleh minimnya penerangan jalan umum (PJU) pada
jalur-jalur tersebut, baik karena lampu yang tidak berfungsi maupun karena
belum adanya pemasangan lampu di beberapa titik. Sedangkan tim Warta Alengka
mengutip dari sebuah jurnal ilmiah “Energi dan Kelistrikan” bahwa lampu
penerangan jalan memiliki standar jarak antar tiang minumum sebesar 30 m (SNI
7391; 2008).
Menentukan
jarak yang ideal antara lampu penerangan jalan umum (PJU) sangat penting guna
memastikan pencahayaan yang optimal, efisien, dan aman. Beberapa faktor yang
perlu diperhitungkan mencakup jenis lampu yang digunakan, lebar jalan, tinggi
tiang, serta kondisi lingkungan sekitar. Secara umum, jarak antar lampu PJU
dapat dihitung menggunakan rumus tertentu yang memperhitungkan berbagai aspek
teknis. Sebagai contoh, untuk jalan di kawasan perkotaan dengan lebar antara 8
hingga 12 meter, lampu PJU biasanya dipasang dengan jarak antara 25 hingga 40
meter. Namun, setiap proyek pemasangan PJU memerlukan kajian lebih mendalam
berdasarkan kebutuhan spesifik serta regulasi yang berlaku di wilayah setempat.
Kondisi
jalan dengan penerangan yang minim bahkan tidak terdapat penerangan tersebut
berada di beberapa jalur utama, seperti Jalan Raya Sukabumi yang menghubungkan antara
Cianjur dengan Sukabumi, Jalan Raya Bandung yang menjadi akses ke Bandung
Barat, serta sejumlah titik di Jalan Raya Puncak yang menjadi penghubung
Cianjur dengan Bogor.
Hasil
pemantauan Cianjur Ekspres menunjukkan bahwa di kawasan Jembatan Cibeureum di
Kampung Cibeureum, Desa Cibeureum, Kecamatan Cugenang, kondisi jalan sangat
gelap akibat PJU yang tidak berfungsi. Mulai dari eks Gedung Dekranasda hingga
melewati SMP & SMA ZAD IQBS, lampu penerangan jalan mati, menyebabkan jarak
pandang pengendara berkurang drastis saat malam hari.
Yoga
Taufik Hidayat (26), salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa kecelakaan
sering terjadi di area sebelum Jembatan Cibeureum. Selain kurangnya penerangan,
kondisi jalan yang menurun, berbelok tajam, serta berlubang meningkatkan risiko
kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor. “Di sini sering sekali
terjadi kecelakaan, bahkan kadang dua motor sekaligus terjatuh. Jalannya gelap
total, jadi sulit melihat dengan jelas,” ujar Yoga kepada Cianjur Ekspres pada
Kamis, 20 Maret 2025.
Menurut
Yoga, kondisi ini telah berlangsung lebih dari satu tahun. Ia bahkan merasa
was-was setiap kali melintasi jalur tersebut di malam hari. “Memang tidak
terlalu panjang jalan yang gelap, tapi titik ini sering menjadi lokasi
kecelakaan fatal karena jalannya menurun dan menikung tajam,” tambahnya.
Sementara
itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cianjur, Tedy Artiawan,
menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk
mengupayakan penambahan PJU di jalur-jalur tersebut. “Kami sudah berkomunikasi
dengan pemerintah pusat dan provinsi agar fasilitas penerangan jalan
ditingkatkan demi kenyamanan para pemudik,” jelas Tedy.
Ia
juga menyebutkan bahwa di beberapa jalan nasional, seperti Jalur Puncak dan
Jonggol, pemerintah pusat telah memasang PJU berbasis tenaga surya sebagai
solusi. “Selain itu, kami juga telah melaporkan kondisi ini kepada Bupati
Cianjur. Harapannya, semua kendala dapat diatasi sebelum musim mudik tiba,
sehingga arus perjalanan tetap aman dan lancar,” pungkasnya. (WA/ Ow)
Sumber Artikel: Cianjur Ekspress, 20 Maret 2025 dengan judu. Jalur Mudik Minim Penerangan, Dishub: Kita Koordinasikan dengan Pusat? Oleh Dede Sandi Mulyadi