Sumber
Foto: wartaalengka.com
WARTAALENGKA, Cianjur – Dalam perdagangan sesi pertama, Selasa (18/3/2025) Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok, dibuka di angka 6.472 turun hingga 6,2
persen ke angka 6.067 di akhir sesi. Seluruh jenis sektor saham mengalami
koreksi, -12,46 persen penurunan pada sektor teknologi, -9,78 persen pada
sektor barang baku, dan -6,24 persen pada sekotor energi. Penilaian para
pengamat hal yang memberatkan psar saham diantaranya adalah dinamika ekonomi
dan politik
Penurunan IHSG ini bertolakbelakang dengan kinerja
beberapa pasar saham harian di bursa luar negeri. Bursa Jepang Nikkei,
misalnya, tumbuh positif 1,4 persen, Bursa Hongkong Hangseng menghijau 1,8
persen. Sementara Bursa China Shanghai naik 0,1 persen, serta Bursa Amerika
Serikat, seperti Dow Jones dan Nasdaq, masing-masing naik 0,85 persen dan 0,31
persen secara harian.
Sebagai respon dari Bursa Efek Indonesia (BEI) akibat situasi
pasar modal tersebut, BEI memutuskan untuk melakukan trading halt (pembekuan
perdagangan) pada 11.19 waktu Jakarta Automated Trading System setelah IHSG
turun 5 persen. Trading halt bertujuan untuk melindungi integritas pasar saham
dan memastikan semua investor terinformasi perubuahan kondisi pasar.
Dalam surat Perintah Kepala Departemen Pengawasan
Pasar Modal 2A OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Nomor S-274/PM.21/2020, yang terbit
pada 10 Maret 2020 lalu mengatur terkait trading halt dilakukan dalam periode
30 menit setiap terjadinya penurunan IHSG dalam kelipatan 5 persen.
Apabila IHSG turun hingga menginjak angka diatas 15
persen maka perdangan saham akan di suspend (dihentikan) yang bisa berkangsung
hingga akhir sesi atau mungkin bisa lebih dari satu sesi. Hal tersebut tetap
memerlukan persetujuan dari otoritas jasa keuangan (OJK).
Ezaridho Ibnutama Analis Saham Senior NH Korindo Sekuritas
Indonesia menjelaskan pada Kompas bahwa penurunan pasar saham terjadi adanya
kekhawatiran para investor asing dengan kebijakan pemangkasan suku bunga Bank
Indonesia (BI). Keputusan ini tengah dirapatkan pada pertemuan 18-19 Maret
2025.
“Kami berspekulasi, investor institusi asing khawatir
besok akan ada risiko tinggi pemangkasan suku bunga hingga 25 basis poin dari
posisi saat ini 5,75 persen,” ungkapnya. Dalam posisi menanti kebijakan ini, NH
Korindo memproyeksikan IHSG akan bertahan di posisi 6.000-6.100.
Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas
Investindo Sekuritas, dalam keterangannya kepada media, juga menitikberatkan
sentimen negatif pasar pada dinamika ekonomi di dalam negeri.
Selain penantian akan arah kebijakan moneter BI yang
akan diumumkan Kamis (19/3/2025), sentimen dari laporan kinerja keuangan dalam
negeri yang dirilis belum lama ini juga jadi pemicu kekhawatiran pelaku pasar.
“Ada faktor penerimaan Indonesia yang mengalami
penurunan mencapai 30 pesen, yang mengakibatkan defisit APBN melebar sehingga
membutuhkan penerbitan utang yang lebih besar, dan tentu saja rupiah kian
semakin melemah. Hal ini yang berpotensi untuk menyebabkan tingkat suku bunga
BI juga akan lebih sulit untuk mengalami penurunan,” tuturnya.
Realisasi penerimaan pajak per Februari anjlok 30,19
persen secara tahunan, yaitu Rp 269 triliun. Belanja pemerintah juga turun 7
persen. Sementara defisit APBN mencapai Rp 31,2 triliun. Efeknya, pada Januari
2025 utang melambung sebesar 44,77 persen.
“Semua khawatir bahwa risiko fiskal kian mengalami
peningkatan di Indonesia yang membuat banyak pelaku pasar dan investor pada
akhirnya memutuskan untuk beralih kepada investasi lain yang jauh lebih aman
dan memberikan kepastian imbal hasil. Saham menjadi tidak menarik, dan mungkin
obligasi menjadi pilihan setelah saham,” ujar Nico.
Di sisi lain, sentimen luar negeri juga tidak luput
dari perhatian. Di antaranya adalah perang tarif. Uni Eropa, menerapkan tarif
yang lebih besar kepada produk AS. Ada pula kekhawatiran akan berlangsungnya
resesi ekonomi di Amerika Serikat.
Melalui keterangan tertulis Wijayanto Samirin, Ekonom
Universitas Paramadina, juga menuliskan
koreksi IHSG kali ini merupakan dampak dari APBN Februari 2025 yang buruk. Demikian
pula dengan proyeksi fiskal sepanjang 2025.
Suasana sidang kabinet paripurna pada Senin, 2
Desember 2024 yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto didampingi Wakil Presiden
Gibran Rakabumin Raka yang diikuti menteri, wakil menteri, dan kepala badan
setingkat menteri di Kantor Kepresidenan, Jakarta. Dalam rapat tersebut,
Presiden Prabowo menyampaikan hasil lawatannya ke luar negeri, penanggulangan
bencana alam letusan Gunung Lewotobi Laki-laki serta persiapan pemerintah
menjelang libur Natal dan Tahun Baru.
Wijayanto menyebutlkan hal ini terjadi akibat
kebijakan pemerintah yang tidak realistis dan tanpa teknokrasi yang jelas.
Kemudian, ini juga akibat berbagai isu korupsi besart-besaran yang mematahkan
kepercayaan pasar. Ini merupakan isu lama yang membuat investor waspada. Ada
juga kebijakan lainnya, seperti kekhawatiran pasar akan protes besar masyarakat
karena perubahan regulasi yang dikhawatirkan menguatkan Dwifungsi TNI. “Isu-isu
tersebut merupakan hal baru yang membuat investor takut,” kata Wijayanto
menambahkan. (WA/ Ow)